PDBI
Pusat Data Buoy Indonesia

Sejarah Perkembangan Buoy

Pada awal tahun 2005 telah disetujui kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Jerman, dimana salah satu butir kerjasamanya adalah pemerintah negara Jerman berkomitmen untuk memberikan bantuan sampai 10 tsunami buoys yang akan ditempatkan di perairan Indonesia. Amerika Serikat pun berpartisipasi dalam memasang alat tsunami buoy. Mereka memasang tsunami buoy yang bernama DART. Amerika telah mengembangkan system tsunami buoy sejak awal tahun 1990-an, dan setelah 15 tahun melakukan research and development, barulah tahun 2005 sistem DART-II menjadi system yang operasional untuk system peringatan dini tsunami di Amerika Serikat. Pada tahap awal, pembangunan tsunami buoy dilakukan dengan merekayasa ulang SEAWATCH buoy. SEAWATCH buoy ini adalah program BPPT untuk pengamatan lingkungan laut pada tahun 1995-1998. Program ini terhenti karena alasan operasional dan finansial. SEAWATCH buoy yang telah dimodifikasi ini, yang selanjutnya disebut InaBuoy G1 (Generasi 1), dideploy diantara samudra Hindia dan selat Sunda.
Selanjutnya, berdasarkan proses pembelajaran yang telah diakumulasi, pada tahun 2008 dan 2009 dikembangkan kembali untuk 5 tsunami buoy yang lebih baik, yang selanjutnya disebut InaBuoy G2 (Generasi 2).

Buoy Generasi 2

Dengan semakin banyaknya tsunami buoy terpasang saat ini, semakin besar pula tanggung jawab BPPT dalam berkontribusi terhadap keselamatan masyarakat Indonesia, khususnya dalam memberikan informasi bahaya Tsunami yang setiap saat dapat terjadi di wilayah Indonesia. Perkembangan ke depan, buoy-buoy ini juga akan dilengakapi dengan sensor-sensor tambahan Automatic Weather Station, Sea Surface Temperature and Salinity, pengukur gelombang dan sensor-sensor oseanografi lainnya. Data-data ini nantinya akan bermanfaat untuk prediksi cuaca ekstrem dan climate change.
Secara keseluruhan, Indonesia memerlukan sekitar 23 tsunami buoys untuk ditempatkan diseluruh periran Indonesia, khususnya daerah-daerah yang rawan terkena bahaya tsunami. Cakupan area deployment mencakup pantai barat Sumatra, Selatan Jawa, Bali dan NTB, Laut Flores, Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, Laut Banda, Teluk Tomini dan Samudra Pasifik
Sejauh ini, buoy tsunami lebih berperan untuk mendeteksi tsunami jarak jauh (far-field tsunami) dengan waktu deteksi diatas 15 menit setelah kejadian gempa. Belajar dari kejadian gempa bumi dan near field tsunami 25 Oktober 2010 di P. Pagai, barat Sumatra, dan sejumlah kejadian vandalisme, perlu dilakukan upaya lain untuk bisa mendeteksi near field tsunami dengan metoda ”cable-based InaBuoy” system, dimana buoy akan ditempatkan di pulau-pulau terluar barat Sumatra dengan memanfaatkan fasilitas darat seperti Mercusuar atau struktur tetap, dan OBU tetap ditempatkan dilaut dalam. OBU akan terkoneksi dengan ‘buoy’ di darat dengan menggunakan kabel optik bawah laut. Sistem baru ini akan menjadi pelengkap (complement) dari jaringan buoy tsunami, dan diharapkan lebih aman dari aksi vandalisme.